" TABE SALAMAT LINGU NALATAI SALAM SUJUD KARENDEM MALEMPANG"
semoga bermanfaat bagi umat hindu kaharingan dimana pun berada

Sabtu, 18 Juni 2011

Upacara/ Ritual

Upacara Manyanggar

   Masyarakat yang menganut agama Hindu Kaharingan, menganggap upacara
   Manyanggar ini merupakan suatu sarana untuk memohon kepada pencipta
   alam semesta, agar kampung atau desa yang mereka tempati terpelihara
   dari segala bencana dan marabahaya.
   
   Manyanggar berasal dari kata sanggar atau sangga, yang dalam Bahasa
   Sangiang berarti menyangga atau menahan. Maksudnya menyangga
   wilayah/daerah dari pengaruh atau perbuatan jahat dan buruk, baik yang
   dilakukan manusia maupun roh jahat yang bersifat gaib terhadap
   kehidupan manusia.
   
   Maksud atau tujuan dari upacara itu sendiri adalah membuat tata batas
   atau perbatasan lingkungan, yang digunakan manusia dengan alam yang
   masih lestari, sedangkan makhluk hidup di alam nyata maupun yang gaib
   dipindahkan ke tempat lain agar tidak saling mengganggu.
   
   Jika diikuti dari awal hingga akhir, prosesi upacara adat Manyanggar
   cukup panjang, hingga memakan waktu tujuh hari atau seminggu.
   
   Tahap-tahap yang dilewati atau rangkaian upacaranya dapat digambarkan
   sebagai berikut;
   
   Hari pertama, dua kegiatan yang dilaksanakan yaitu menjemput para
   Basir [petugas adat] dan Balian Baampar-ampar --untuk memberitahukan
   kepada Penggutin Petak Danum, Pukung Pahewan Antang, Lawang Labehun
   Jatta, Luae-lete, Sungei Saka].
   
   Hari kedua, juga dilaksanakan dua upacara yaitu Manenung mencari
   tambahan Sahur (leluhur) Kalimantan Tengah, dan Balian Tantulak Lapik
   Gawi.
   
   Hari ketiga, melaksanakan upacara Manarung yaitu memberitahukan kepada
   para leluhur [Sahur] Kalimantan Tengah, Antang Petahu yang menjaga
   kota/desa, dan orang halus (gaib) yang menjaga Batang Danum Simpei
   Karuhei, tempat meminta bahan alat Pasah Patahu dan Ancak Rahan
   Lamiang.
   
   Hari keempat, kembali melaksanakan dua upacara yakni mendirikan Pasah
   Patahu dan Ancak Rahan Lamiang serta Ancak Mihing. Kemudian
   dilanjutkan dengan upacara Marawei yaitu mengundang para leluhur
   (Sahur) Kalimantan Tengah, Antang Petahu yang menjaga kota/desa, dan
   orang halus (gaib) yang menjaga Batang Danum Simpei Karuhei.
   
   Hari kelima melaksanakan Tabuh yaitu memotong hewan kurban, memasak
   sesajen, Manggarunya Sahur Parapah dan Antang Patahu, Balian (tarian),
   Sangiang Manjung kepala sapi untuk Naga Galang Petak.
   
   Hari keenam, kepala kampung atau pejabat pemerintah setempat akan
   penanaman kepala sapi.
   
   Hari ketujuh atau merupakan penutup dari seluruh rangkaian upacara
   yaitu Pabuli Sangiang dan membayar Daluh Dasan Basir.
   
   Dengan demikian, upacara Manyanggar berbeda dengan upacara Tiwah. Pada
   upacara Tiwah, hanya keluarga yang menyelenggarakan upacara tersebut
   yang bertanggungjawab, dan biasanya hanya dilaksanakan sewaktu-waktu
   menurut keperluan atau keinginan pihak keluarga.
   
   Tiwah itu sendiri bermaksud membersihkan tulang belulang para leluhur
   (nenek moyang) yang sudah meninggal dunia, yaitu tulang belulang para
   leluhur dikumpulkan dalam satu tempat kemudian dicuci dengan darah
   kerbau dengan harapan bahwa roh para leluhur akan tenang melakukan
   perjalanan di alam gaib dan cepat sampai menuju nirwana (surga).
   
   Sementara upacara Manyanggar melibatkan seluruh penduduk kampung atau
   warga desa, yang sifatnya memohon agar kampung atau desa mereka
   terhindar dari segala bencana dan malapetaka, baik bencana yang
   ditimbulkan oleh makhluk halus (gaib) maupun bencana yang disebabkan
   oleh manusia.

Balian Balaku Untung


Merupakan salah satu upacara ritual agama hindu kaharingan yang bertujuan meminta umur panjang, banyak rezeki serta mendapat berkat dari Ranying Hatalla. Permohonan kepada Hatalla tersebut mereka lakukan dengan perantaraan Rawing Tempun Telun yang dalam upacara Balian Balaku Untung disebut Mantir Mama Luhing Bungai.
    
Dalam upacara ini persyaratan yang lazim disediakan ialah bawui buku baputi atau babi kerdil yang berwarna putih. Namun boleh juga kerbau atau sapi. Setelah segala macam persyaratan dan sesajen disiapkan, upacara segera dimulai. Diawali dengan seorang penawur, yang dengan sarana beras, menabur-naburkan beras ke segala arah. Dengan perantaraan seorang penawur, mereka  memohon kepada roh beras yang ditawurkannya untuk menyampaikan kepada Mantir Mama Luhing Bungai  agar bersedia turun ke bumi untuk menyampaikan  persembahan mereka kepada Penguasa Alam.
Tidak lupa dengan perantaraan penawur pula mereka memohon izin kepada salumpuk liau atau jiwa-jiwa orang yang telah meninggal dunia bahwa di bumi sedang diadakan upacara Balian Balaku Untung. Juga disebutkan alasan upacara tersebut mereka adakan. Adapun alasannya karena sebagai manusia yang masih harus melanjutkan hidupnya di Pantai Danum Kalunen,  mereka masih membutuhkan rezeki dan umur panjang.
    
Setelah roh beras yang ditawurkan naik menuju ke tempat  Mantir Mama Luhing Bungai di Batang Danum Jalayan di langit ketiga yaitu di negeri  Batu Nindan Tarung, pesan dan tujuan dilaksanakannya upacara adat tersebut disampaikan. Setelah dipahami maksud dan tujuannya, kemudian   beberapa Sangiang mengambil alih tugas tersebut. Sangiang-sangiang itulah yang nantinya menjadi perantara manusia menuju Tahta Ranying Hatalla.
Para Sangiang yang sering kali terlibat dalam  melaksanakan tugas tersebut, antara lain:
1.    Mantir Mama Luhing Bungai.
2.    Raja Tabela Basandar Ranjan Kanarohan Rinyit Kangantil Garantung.
3.    Tarung Lingu, Kanyumping Linga, Asun Tandang Panangkuluk Enteng.
4.    Bulan Pangajin Sambang Batu Bangkalan Banama.
5.    Balu Indu Iring Penyang.
6.    Haramaung Lewu Danum Jalayan.
7.    Pambujang Linga.
8.    Pambujang Hewang.
Sangiang-Sangiang yang bersedia menjadi perantara tersebut akan langsung turun ke bumi dan memasuki rumah tempat upacara dilaksanakan. Mereka tidak lama berada di rumah tersebut karena harus segera mengantarkan korban persembahan serta permohonan manusia ke hadirat Penguasa Alam. Mereka naik ke atas menuju langit ketujuh dengan melalui empat puluh lapisan embun.
Setelah melewati empat puluh lapisan embun, barulah mereka mencapai langit pertama, lalu langit kedua dan seterusnya. Setiap langit ada penjaga pintu gerbang, dan setiap penjaga gerbang berhak  pula menerima sesajen yang khusus telah disiapkan bagi mereka. Apabila sesajen diterima dengan baik, lalu mereka menukar sesajen tersebut dengan  Bulau Untung Panjang . Lalu mengutus salah seorang dari penjaga pintu gerbang setiap lapisan langit  bergabung dalam rombongan untuk turut serta mengantarkan Bulau Untung Panjang  menuju Tahta Ranying Hatalla.
Dengan demikian  setiap melewati lapisan langit, jumlah rombongan  menjadi semakin besar karena dari setiap langit yang dilalui, seorang sangiang akan turut serta. Dengan demikian setelah mencapai langit keenam, jumlah rombongan sangiang yang dipimpin oleh Rawing Tempun Telon atau Mantir Mama Luhing Bungai telah bertambah enam orang. Menjelang pintu ke tujuh, Raja Anging Langit telah menunggu di depan pintu gerbang langit ke tujuh untuk mengucapkan salam. Bersama Raja Anging Langit, turut serta Indu Sangumang yang nantinya akan bertugas mengetuk Pintu Tahta Kerajaan Ranying Hatalla.   
Setelah memasuki pintu langit ketujuh, lalu ke Tasik Malambung  Bulau, Tumbang Batang Danum Kamandih Sambang, Gohong Rintuh Kamanjang Lohing tempat tinggal Tamanang Handut Nyahu dan Kereng Tatambat Kilat Baru Tumbang Danum Nyarangkukui Nyahu Gohong Nyarabendu Kilat, tempat Raja Sapaitung Andau. Baru kemudian  menuju Bukit Bulau Nalambang Kintan Tumbang Danum Banyahu.
Setelah itu  menuju Bukit Tunjung Nyahu Harende Kereng Sariangkat Kilat. Disinilah Banama Tingang , kendaraan  berbentuk perahu yang mereka tumpangi  berhenti. Hanya tiga dari rombongan Sangiang tersebut yang melanjutkan perjalanannya menuju Tahta Ranying Hatalla.
Mereka adalah :
1.    Mantir Mama Luhing.
2.    Raja Tunggal sangumang.
3.    Indu Sangumang.
Anggota rombongan lainnya hanya sampai di tempat tersebut dan harus bersabar menantikan ketiga temannya melanjutkan perjalanan menuju Tahta Ranying Hatalla. Sambil membawa Bulau Gantung Panjang atau Batun Bulau Untung yang telah diserahkan oleh para penjaga lapisan langit, ketiganya menuju ke tempat Raja Sagagaling Langit di Bukit Bagantung Langit, untuk membersihkan Bulau Batu Untung yang mereka bawa tersebut.
Dari tempat itu mereka pergi lagi menuju Bukit Garinda Hintan tempat Angui Bungai Tempulengai Tingang, lauk Angin Manjala Buking Tapang untuk mangarinda Bulau Batu Untung. Setelah itu dengan menumpang Lasang Nyahu, yaitu sejenis perahu yang melaju cepat, mereka menuju Bukit Hintan Bagantung Langit tempat kediaman Raja Mintir Langit. Di sana mereka  membuka  gedung tujuh tempat Putir Sinta Kameluh( . . . tidak terbaca, ns).
Lalu Indu Sangumang mengetuk pintu, kemudian masuk dan menghadap Singgasana Ranying Hatalla. Indu Sangumang memohon berkat bagi Bulau Batu Untung (. . . tidak terbaca, ns.) setelah berkat diberikan mereka kembali menuju arah Bukit Tunjung Nyahu, dan di tempat tersebut telah menunggu 40 Mantir Untung yang langsung meletakkan Bulau Batu Untung pada kendarah cinta kasih yang tak dapat direnggangkan oleh kekuatan apapun jua. Dengan demikian proses tugas para Sangiang telah selesai dan mereka kembali ke dunia dengan melalui tujuh lapisan langit, empat puluh lapisan embun, langsung menuju rumah di mana upacara sedang berlangsung.
Setelah menjelaskan segala sesuatunya kepada perantara dalam hal ini balian, maka para Sangiang pamit untuk kembali ke tempat mereka masing-masing, namun terlebih dahulu mereka menyantap sesajen yang telah disediakan khusus bagi mereka pada sebuah kamar.
Untuk pengecekan apakah permohonan tersebut dikabulkan atau ditolak dengan cara sebagai berikut:
Sebelum upacara dimulai, disediakan rotan yang panjangnya tujuh depa dan beras tujuh sukat. Panjang rotan benar-benar telah diukur oleh tukang tawur atau balian, panjangnya  tujuh depa dengan disaksikan oleh banyak orang. Begitu pula beras sebanyak tujuh sukat. Setelah upacara selesai, diadakan pengecekan ulang. Apabila ukuran rotan menjadi lebih panjang yaitu lebih dari tujuh depa seperti hasil pengukuran semula, begitu juga jumlah beras lebih dari tujuh sukat, berarti permohonan mereka diterima dengan baik. Permohonan telah dikabulkan.

TANDAK


Tandak Lewu Murik Murung

Lewu Tumbang Murung
Lewu Batu Randang Tingang, rondong liang lentah tambun kaleka Liau Turus pandak, kabalen kapang, kamban tahajak iwa kabantus tambilok.

Juking
Lewu Tanjung Hanyi, rondong karangan penyang kaleka Liau Kapang baka petak rundung banama kamban tabilok baka darai lanting jalatien. Antang nyahi lentem langit kenyoi kilat randan ngangkuling peteng penyang. Katabalan uluh balai katapang uju bararenjeng mendeng. Panambusan Sali nusan kayu alau hanya baratandai mingkat.

Lewu Lupak Dalam
Kaleka Liau Garing randan bajamban laut. Kambang sihong ringkang tatean hariran.

Sei Barangas
Kaleka Liau Busun Gareng hagandang purun. Kamban baner sihung halejar pandung balau tambun tandipah pulau tonggal nganderang tingang nusa sahinya hengkuk Ranying.

Balanggar  
Kaleka Liau Langgau hantu pangios lewu pulu.

Tumbang Tagiring
Lewu olek rondong nasarang Rawing. Kaleka Liau Rawing basiak pamatas tungkup. Kamban lumba bahanyi pamisah ruang.

Badapung (Sambil)
Lewu Tambak Raja, rondang karangan penyang bulu. Kamban baringen kilat, baka ginjai tulang.  
Badapung (Gantau)
Kaleka Liau Gandang sanaman baka narah henteng palimantu baka tenong rewei raja endus habantusan. Baka rintuh tisoi kanaruhan.

Basungkai
Kaleka Liau Jala Bulau pali habirik baka tenong Riak Rawing. Kambun  untai rabia endus habarika baka rintuh ringkin lumba.
  
Kueh Tandak Lewu ?
•    Pulau Kupang kota Bataguh pamatang sawang pulau Kupang, kaleka ulek Nyai Undang.
•    Banau atawa Bahanau.
•    Basarang ?.

Tumbang Tarusan
Kaleka Liau Haramaung panjang ikohe, ngangkuling banama jahawen.

Raing
Kaleka Liau Gandang sanaman kanarah henteng kamban pali mantu baka teneng riwai laut Towong jongkarang endus habantuan baka rintuh selatan kariran.

Tumbang Bakampat
Kaleka Liau Burung Bulau busik pasebun raja. Kaleka Ayam Rabia kabantus ganggerang.

Tumbang Rasanggal
Kaleka Liau Taming Bulau, katengkan nyaru kamban talali rabia kabantus ganggerang.

Tamiang
Kaleka Liau Antang pasihai, busilo ruhung bahanyi mandui darah belum. Kamban kenyoi patenggan bajari pulan petah kapandaian tanggiri hamiring.

Juking (Kuala Kapuas)
Lewu Tambak Raja rondang banjang tarahan. Kaleka Liau Lunuk hai kajang tombang ulang hagandang kamban daringan datah tingkap kanarewong antang.
      

Tandak Lewu Murik

Juking Kompai
Lewu Juking kompai tajur ruhung. Kaleka Liau Uei Sigi baruntih sangkalemo.

Tumbang Maluen
Kaleka Liau Antang Pasihai basilo ruhung bahanyi mandui daha belum kamban kenyoi patenggau bajari pulang petah kepandoian tinggi hamaring.

Pulau Telo  
Pulau rotek kasanang manyang nusa lawang hajenjeng tandipah lewu kangajang apui nyaru rondong kaningkap bahan ganggereng. Kaleka Liau Nyaring gila –gila enteng. Jari mandoi asep sandawa laut kamban siakung rawe-rawe hanyie petah kapandoian paruru barantai.

Lewo Lentop Banama, Rondong Sempong Tihang
Kaleka Liau Moehoer batu bateras penyang, kambang sukai baluhing, halawu pulau lentop Banama Nusa sempong tihang.

Tumbang Sungei Dayang
Lewu Tambak Raja, rondong timbok kanaruhan. Kaleka Liau Rajan Pasang, baka lelep Lewu Pulu. Kamban kanaruhan jaramai baka lilap rundung jalatien.

Tumbang Sakaraung
Kaleka Liau Garantung korik tetawak lewu danom jalajan kamban janjingan rinjit titih rondong labeho pali.

Sungai Kayu
Lewo payong nyaho, rondong karawah batu sambang. Kaleka Liau Haramaung tiroh-tiroh entenge, bahanyi mandoi daha belum, tuntang Liau Luruk Garu sangkabilan hintung sangiang. Kambang pangadien kanto-kantok hanyi petah kapandoian tanggiri hamaring.

Tumbang Paraya
Kaleka Liau Antang pasihai basilo ruhung pamatas tungkup. Kamban kenyoi patenggau pamisah raung.

Lanting
Lewu Ranting Rondong pelabuhan banama. Kaleka Liau Gareng beloh soka lumpung matanandau. Kamban sihong hamaring. Sehungkir kamban kabanteran bulan.

Mandomai
Lewu olek  kalingu, rondong ampah timpong. Kaleka Liau Sawang belum merajak bukit batu. Kamban bonge hamaring manterus kereng liang.

Sungai Sangalang
Lewu Dandang dalam. Rondong paseban raja. Kaleka Liau Patahu menteng beheken luar palangka ruhung. Kamban mamben bahanyi petah badari luar tatanep salimbayong antang.

Sei Garantung
Lewu tahutun pantara, rondong teweh dare . Kaleka Liau Rangkang salingkat mandawen bulan. Kamban hengkun banturung mamumbung pehawang.

Tumbang Umap
Lewu Ulek kalinga, randang tambarang tingang, kaleka Liau Lunuk panjang.

Mantarei
Lewu Payong nyahu, rondong  ngajang gangerang. Kaleka Liau Rajan talawang basaki daha tambarirang.

Tangahon
Lewu Pandih Batu, rondong jumpang handiwung. Kaleka Liau Lunuk nyaho baka giring bulu. Kamban baringin kilat baka ginjai tulang.

Pantai (hila gantau murik)
Lewu Tahuton Liau Lampang, rondong nyaimbur tambon baputi.

Pantai (hila sambil murik)
Lewu Pantai Bulau, rondong gelombang pahalang, kaleka Liau Riwut dohong maliambong sambong selatan pulang panangkules bengkel bahanyi mutang giling pinang janji undun pamua lunuk bungai. Eka Antang Riak Rawing panasarang ambun balanga kenjoi ringkin loemba panasakui tambun repang garantung.

Tamiang
Lewu Olek Lawang Jata, rondong riak sanglemo Kaleka Liau Lamiang Bulau hantantaliasae serumput mihing bukit batu.Kambang hanyang rabia hantapiket banuas tanterus nyalong kereng liang.

Mangandam
Lewu Jakatan rundian, rondong riak batu sambang.

Penda Ketapi
Lewu Mandarit Garing rondong mandarut bulau, kaleka Liau Lunuk kajang lewu pulu kamban baringin datoh tongkap rondong hapamantai jalatien, Eka Antang Raja bagelang bulau kenyoi kanaruhan batingkat rabia.

Bapakang
Lewu jakatan, rondong salohan tandang.

Basuta
Lewu Bukit Tihang Jakatan Rawing. Rondong kereng tusang salahan tandang. Kaleka Liau Nyating gila-gila entenge nakaruan pain bukit panjang halawu pulang tanggung tingang nusa sangkai tarahan tandipah pulau kurik sumpin tamaun nusa simit junjung rawing.
      
Sei Dusun
Lewu Galang tarahan rondang masarang rawing. Kaleka Nyaring gila-gila entenge basilo ruhung, bqka tetes uhat bakau langit.

Manusup
Lewu Leleh Lentur Satasi rondang kanapan lasang. Kaleka Liau Lunuk hai teweng katelo dia bajombang bukit tingang papui kepat dia basale dandang.

Dahuyan Lawu
Lewu Ulek kalingo rondong riak haselan, Kaleka Liau Dahiang tabela jarang pampahiu dia tau metoh rawei pulu.

Sei Kapar
Lewu Ulek Kalinga, rondong riak batu sambang.

Penda Putik
Lewu olek kalingo, rondong sakatan randin tandang. Kaleka Liau gandang lamiang pamaripih pulu towong hanyang papalapak  jalatien. Tumbun tarantang riwutdohong maliambong sambung.

Tarantang
Lewu Lawang Patahu rondong salampak sawang. Kaleka Batu Lampang amba parei nyangen tingah.

Lamunti
Lewu Mandarai Sambang. Rondong kamesak lohing. Kaleka Liau Dohong tanggalong mara-marang tasale, tau mangarak penyang ije kasimpai. Halawu pulau tonggal nganderang tingang nusa sahin nyahengkok ranying.
      
Pulau Kaladan
Lewu Dandang dalam rondang talian surat. Kaleka Liau Lunuk sangkalemu belum manambai paseban raja. Kamban bangingen hamaring maninggang masigit kanaruhan.

Mantangai
Lewu olek lawang jata, rondong paget Hatalla. Kaleka Liau Nyaring gila-gila entenge makongan garing janjihin tihang.

Tapian Lisong
Lewu Olek Kalingo rondong palabuhan banama.

Kal
umpang
Lewo Pay
ung Nyahu rundung kaninding timpung. Kaleka Lunuk hai belum mambai masigid due habambai.

Leleh Baner
Lewu Leleh Lentur Santagi, rondong kankelong bengkel kaleka Liau Rajan Tambarirang Balua Bara Singkep Langit.

Katimpun
Lewu Dandang Dalam, rondang olek kalingo. Kaleka Liau Handiwung belum. Belom petak kasamboyan kambang pandong hamating hating kereng kasimbu laut.

Sei Ahas
Lewu Lawang Patahu, rondong tarian antang. Kaleka Liau Garantung kurik panyong lewo danom jalajan. Kambang jajungan rinyit titih rondang lebehu pali.

Katanjung
Lewu Olek kalingo rondong tahuton Liau Lampang. Kaleka Antang Pasihai basilo rohong baka tetes uhat marau langit.
Tawanan
Lewu Olek kalengo rondong nyapenda garing balemo. Kaleka Liau Tingang ije kadandang kajang pukung pahewan antang bungai due kapiting tingkap parajangan dahiang.

Tumbang Kajang
Lewu Dandang Taheta, rondong tarion antang, palus halawu nangkalau batang danum riak sangkalemo malangkawei guhung ringkin sangkalunyai.

Panti
Lewu Salampak Sawang rondong pandang bulan.

Aruk
Lewu Olek Lawang Jata. Rondong riak batu sambang.

Lawang Kajang
Lewu jakatan runjan rondong riak batu sambang.

Timpah
Lewu Nabasan sambang rondong riak batu sambang.

Longko Layang
Lewu jakatan runjan rondong nyampeda tihang bendera.

Tumbang Hiang
Lewu Dandang dalam rondang talian surat.

Tawai Baru
Lewu Dandang Taheta, rondong jakatan runjan.

Penda Ketapi Due
Lewu Uhat Marau Langit, rondang tahutan Liau Lampang.

Masaran
Lewu Ampah Durat rondang tihang bandera.

Kayu Bulan
Lewu Jakatan kalingo rondong  jakatan randin tandang.

Penda Payang
Lewu Olek Kalingo, rondong riang batun sambang.

Lewu Baru (Gantau Murik)
Lewu Tanjung Hanyi rondang karangan penyang.

Lewu Baru (Sambil Murik)
Lewu tahutan panatar rondong teweh dara.

Penda Muntei
Lewu Olek kalingo rondong kalapan lasang.

Kareta sei Jihi
Lewu Olek Lawang jata rondang tarian antang.

Tapan
Lewu Sakatan Runjan rondong jakatan randin tandang.

Tapan (gantau)
Lewu Tahutan Pantar rondong jakatan runjan.

Pujun
Lewu Ampah Surat rondong jakatan runjan.
Lewu sakatan runjan riak pantun sambang.

Marapit
Lewu Jakatan Runjan, rondang kajang apoi nyaro.

Mahuus
Lewu Jakatan Runjan rondong sakatan randin tandang.

Rohong
Lewu Jakatan Runjan, rondong olek kalingo.

Bajuh
Lewu Jakatan Runjan, Rondang pasang darah.

Penda Panguran
Lewu nyampeda garing balemo randan jakatan runjan.

Dandang
Lewu Jakatan Runjan, rondong olek kaling
u.

Tumbang Kakat
Lewu ayun hatanjung rondang pasang darah

Jangkang
Lewu Jakatan Runjang, rondang pasang darah.

Tambahan Keterangan

1.    Sei = Sungai.
2.    Mandomai = manumon sarita uluh bakas helo bara bawak kotak -  mandoi mai - atawa - mandoi umai.
3.    Juking Kumpai : Amon manumon tetek tatum, uluh bakas helo, ie te hila dipah Kuala Kapuas. Wayah to horan kaleka Tamanggung Tanjung Kompai Dohong, kajariae mindah akan lewu kehu seha wayah toh bagare Marabahan atawa huran asale Tumbang Bahan atawa Muara Bahan palus manjadi Marabahan.
4.    Pulau Telo : Manumon sarita uluh bakas helo, aton telo ije intu bentuk sungai kapuas te asale kapal perang Belanda kahem into nyelo 1830-1835, kejariae, manjadi Pulau Telo wayah toh.
5.    Basarang : Kaleka te metoh toh inampa tarussan akan sungai Kahayan (mintin) jari tembus benteng nyelo 1961 kepanjange 24,5 Km, kalombahe 30 meter tinai kahandalem 5 meter.